Workshop Sosialisasi Program Revolusi Industri 4.0 dan Kawasan Prioritas Nasional

Workshop sosialisasi program revolusi industri 4.0 dan kawasan prioritas nasional dilaksanakan pada Selasa, 4 Oktober 2022 di laboratorium komputer 8. Kegiatan ini dimulai pukul 10.45 WIB – selesai. Dihadiri oleh 45 orang peserta, baik dari pendidik dan tenaga kependidikan. Narasumbernya terdiri atas dua orang, yaitu Bapak Didik Darmanto, S.Sos., MPA dan Mufidah, S.Si., M.T. Pelaksanaannya dilakukan secara daring/online melalui media zoom meeting. Sesi pertama diisi oleh Ibu Mufidah, S.Si, M.T. Beliau menyampaikan tiga poin penting dalam workshop, pertama kinerja sektor industri, kedua pembangunan vokasi industri menuju corporate university, dan ketiga pengembangan sumber daya industri 4.0.

Pemaparan materi oleh ibu Mufidah, S.Si., M.T.

Revolusi industri tak bisa dilepaskan dari pertumbuhan ekonomi dan industri pengolahan nonmigas. Pertumbuhan tertinggi pada triwulan II tahun 2022 pada Industri pengolahan nonmigas, yaitu sebesar 0,8%. Disusul dengan pertumbuhan transportasi dan pergudangan sebesar 0,76%, perdagangan sebesar 0,58%, dan di urutan terakhir pertumbuhan ekonomi di bidang informasi dan komunikasi sebesar 0,5%. Pertumbuhan ekonomi industri ini tentunya membutuhkan tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja berdasarkan sektor ekonomi pada bulan Februari tahun 2022 paling banyak diserap di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan sebanyak 40,63 juta jiwa. Bidang pengadaan listrik, gas, uap/air menduduki posisi yang paling sedikit menyerap tenaga kerja, yaitu sebesar 0,30 juta jiwa.

Kolaborasi pemenuhan kebutuhan sumberdaya manusia di bidang industri dibutuhkan 682.000 per tahun. Oleh karena itu, dibutuhkan badan pengembangan sumber daya manusia industri di Indonesia. Saat ini, badan tersebut sudah menyebar di berbagai pulau di Indonesia. Saat ini sumber daya manusia industri menghadapi tantangan baru yaitu revolusi industri 4.0 dan ekonomi digital. Alasan inilah yang menjadi sebab bergesernya tenaga kerja global beralih profesi. Program pemerintah untuk meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital, yaitu program making Indonesia 4.0. Pada Sesi kedua, kegiatan workshop diisi oleh Bapak Didik Darmanto, S.Sos., MPA.

Materi yang diberikan berjudul optimalisasi SMK untuk mendukung industri 4.0. Lulusan SMK menjadi penyumbang pengangguran terbesar berdasarkan data BPS pada bulan Agustus 2020. Hal ini disebabkan banyaknya lulusan semi-terampil, namun daya serap pasar kerja yang terbatas. Artinya, pengembangan bidang keahlian di lembaga pendidikan vokasi belum sejalan dengan kebutuhan industri dan merespon kebutuhan pasar. Perubahan tatanan pekerjaan yang dipicu oleh Covid-19 akan memberikan dampak yang sangat besar, terutama untuk pekerja dengan bayaran terendah, berpendidikan rendah, dan paling rentan.

Pendidikan lah salah satu jalan yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperbaiki skill sumber daya manusia industri. Sepuluh skill yang dibutuhkan pada tahun 2025 yaitu, 1. Analytical thinking and innovation, 2. Active learning and learning strategis, 3. Complex problem solving, 4. Critical thinking and analysis, 5. Creativity, originality, and initiative, 6. Leadership and social influence, 7. Technology use monitoring and control, 8. Technology design and programming, 9. Resilence, stress tolerance, and flexibility, 10. Reasoning, problem solving and ideation. Kesepuluh skill ini harus diberikan pada siswa SMK. Sehingga mereka memiliki kesadaran dan motivasi diri yang baik untuk terus berkembang dan belajar. Guna mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing.

Tujuh upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing salah satunya dengan pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis kerjasama industri. Melalui realisasi program prioritas berupa produktivitas dan daya saing yang dijabarkan dalam lima proyek prioritas. Di dalamnya terdapat empat indikator target dan capaian kegiatan prioritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published.